Perjalananku Mengenal FuraBIT#Part 2



Welcome To Medan

Jarum jam di rumahku menunjukkan pukul 21.00 wib, Seingatku Hari itu jum’at malam sabtu 30 September 2017 ada pemutaran film sejarah G30S/PKI di televisi saat aku dan ayahku bersiap-siap untuk berangkat ke Medan, Mama mempersiapkan barang-barang  keperluan kami selama di medan seperlunya saja, meski hanya 1 hari kami berada di Medan, kami sengaja tidak memberitahukan pada pakde dan keluarga lain di medan akan kunjungan kami ke Medan, soalnya jika nanti diberitahu kami yakin tidak maksimal karena waktu yang sangat sempit, seingatku pada hari itu hari jum’at, jadi kami berangkat malamnya dengan target sabtu pagi sudah sampai medan, “ Ayah sudah wanti-wanti padaku bahwa ini urusan hanya untuk ketemu Ombit,” next time saja kita ke rumah pakde di Medan ya,” pesan Ayah padaku.

Setelah hampir 2 jam kami menunggu bus di loket perwakilan Duri, akhirnya Bus Pelangi dari Pekanbaru  yang ditunggu-tunggupun tiba, tidak lebih dari 5 menit kamipun langsung berangkat menuju medan, akupun duduk disamping ayahku karena tiket sudah dipesan siangnya oleh ayah, sehingga kami sudah tau seat yang kami punya. Sejenak aku terpukau saat masuk kedalam kabin bus, hatiku berkata serasa didalam kabin pesawat saja, kulihat orang-orang disekelilingku banyak yang tertidur karena waktu saat itu menunjukkan pukul 23.00 wib. Saat di dalam bus tidak banyak yang kami bicarakan selama di perjalanan, fokus kami hanya ketemu Ombit, aku sendiri tidak tau seperti apa wajah/rupanya, yang kutau photo profilenya anime orang yang selama ini aku ajak komunikasi via line, pikiranku berkecamuk hati bertanya-tanya, gimana kalau sekiranya ga’ bener ya? Ombit itu bohong, padahal kami sudah di bus dalam perjalanan ke medan. Sementara ayah hanya ikut apa kataku, tidak sedikitpun ayah merasa ragu apa yang aku katakan, entahlah, yang pasti ayah dukung dan support aku,

Sabtu pagi sekitar pukul 9.00 wib bus yang kami tumpangi pun tiba di Medan, kami pun turun di Jl Sisingamangaraja dekat SPBU dan memutuskan untuk istirahat  sejenak di SPBU sekaligus mencari sarapan pagi, setelah terasa cukup ayah memintaku untuk mencari taxi online, tanpa pikir panjang dan tanya sana sini jemariku langsung menekan aplikasi Grab di handphoneku, tidak butuh waktu lama 15 menit kemudian mobil yang kami pesanpun tiba menjemput, seorang anak muda dengan mobil agya pun menghampiri kami, dalam hatiku berkata, “ ah tak masalah yang penting bisa cepat sampai mengingat kami harus kembali hari ini juga hatiku berkata.”

Kami pun langsung menuju alamat yang di beritahukan oleh Ombit, Jl. Alumunium Raya dekat Musholla. Di depanku ayah bersama om Grab aku menyebutnya, asik bercerita panjang lebar dengan berbagai topic pembicaraan tentang kota Medan, Bisnis Grab, kemacetan dan lain sebagainya namun yang kudengar dan kuingat om Grab ternyata masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Medan, dan ngegrab adalah aktivitasnya diluar kuliah alias cari biaya kuliah sendiri ungkapnya. Sekilas kudengar ayahpun menyarankan  untuk menempuh jalur alternatif untuk menghindari macet, maka  mobil yang kami kendarai pun meluncur ke jalan Tol Simpang Amplas, dan tidak butuh waktu lama sekitar 30 menit kami pun tiba di gerbang Tol Tanjung Mulia. Dalam perjalanan itu akupun terus berkomunikasi dengan Ombit melalui line yang menanyakan posisi kami dimana. Tidak butuh waktu lama dengan dukungan mbah Google Maps akhirnya kamipun tiba di tempat tujuan kediaman Ombit.
 
Sesaat kami pun turun dan menanyakan pada seorang ibu tetangga sebelah, belum 2 menit tampak seorang anak muda tinggi besar keluar dari rumah sederhana tepat di belakang Musholla, dalam hatiku berkata “ ini mungkin Ombit” dan ternyata benar, dengan hangat om bit menyambut kedatangan kami. Orang yang selama ini aku ajak untuk berdiskusi tentang banyak hal di dunia Crypto hanya melalui media sosial, tidak pernah terbayangkan seperti apa rupa dan postur tubuhnya, dan hari ini aku bisa bertemu langsung dengan ombit Muhammad Abdulfatah founder furabit dan ternyata ombit orangnya 2 kali lipat dari postur tubuhku, kataku dalam hati.

Diskusi Panjang

Sesaat kemudian tanpa basa basi kami pun mulai bercerita ringan, mulai perjalanan kami dari Duri Riau ke Medan, keluarga hingga anak scuare di group line, ditemani oleh segelas minum sirup dingin khas Kota Medan kamipun asyik berdiskusi panjang lebar, tak terasa 2 jam lebih sudah kami diskusi azan pun  berkumandang dan sesaat obrolan pun kami tunda untuk melaksanakan sholat zuhur di Musholla depan rumah ombit. Usai sholat kamipun melanjutkan diskusi, kali ini aku dan ayah tampak tidak menyia-nyiakan waktu untuk bertanya banyak hal pada ombit, terlebih saat diskusi kami tentang keuangan, investasi, trading, bitcoin, regulasi, scam dan lainnya. Tampak ombit sangat santai dengan argumentasi cukup dalam menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ayah, terlihat diskusi mereka ada yang tidak aku mengerti dan pahami, maklum usia ombit 2 kali usiaku dan  usia ayahku 2 kali usia ombit, dari diskusi tersebut terlihat jelas sekali ombit mengerti dan menguasai semua hal yang dipertanyakan oleh ayah meskipun usia ombit jauh dari usia ayah, dan cerita-punya cerita ternyata ombit diberi anugerah Allah SWT kecerdasan luar biasa, mengerti beberapa bahasa asing seperti Inggris, Jerman, Jepang, dan spanyol bahkan bahasa daerah seperti Batak, Jawa, Nias, Sunda, dsb. peraih juara olympiade fisika tingkat Provinsi Sumatera Utara dan peraih beasiswa dari negeri jiran Singapura untuk study di OxfordUniversity Inggris. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan kepada ombit. Amin

Perjalanan panjang dan diskusi yang kami lakukan secara marathon, panjang dan mendalam serta komitmen ombit tersebut ternyata cukup bagi ayah yang akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan ombit dengan membeli beberapa lembar saham perusahaan FuraBIT dan investasi di landing. Sesaat kemudian Ombit pun mengeluarkan motor pergi bersama ayah menuju ATM untuk melakukan transaksi sedangkan aku menunggu dirumah dan tidak butuh waktu lama sekitar 20 menit kemudian merekapun kembali tiba. Saat awal berdiri FuraBIT menawarkan sebanyak 10.000 lembar saham dengan harga penawaran sebesar 5$ perlembar saham. Meski tidak banyak saham yang di beli namun aku dan ayah menaruh harapan kedepan FuraBIT bisa menjadi lebih baik dan besar.  Sejak saat itu aku dan ayahpun aktiv berdiskusi baik melalui line, telp, whatsapp tentang banyak hal dengan ombit, bahkan mentoring tentang Cryptocurency yang dilakukan ombit melalui chanel Discord selalu ku ikuti.

Diskusi panjang dan mendalam itu terasa begitu cepat mengingat kami harus kembali ke Duri Riau, menjelang pukul 4 sore kamipun berpamitan pada Ombit untuk kembali ke Duri Riau, meski sebenarnya masih ingin berdiskusi lebih lanjut namun waktu yang harus memisahkan pertemuan kami dengan Ombit Muhammad Abdulfatah Founder FuraBIT. Sore itu juga kami berangkat ke Duri – Riau. 
Sekian

Postingan Populer