Cryptocurrency



Pengertian Dan Latar Belakang Sejarah Cryptocurrency

Cryptocurrency adalah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari dua kata yaitu cryptography (teknik pengamanan suatu komunikasi) dan currency (mata uang). Dari dua kata tersebut, cryptocurrency dapat diartikan sebagai suatu media pertukaran berbentuk mata uang digital yang menggunakan prinsip-prinsip kriptografi di dalamnya, sehingga mata uang digital yang diproduksi dan dipertukarkan dapat divalidasi keaslian serta keamanannya.

Berbeda dengan uang kertas atau logam yang dicetak, cryptocurrency diproduksi melalui penyelesaian rumus-rumus matematika. Setiap solusi dari rumus-rumus tersebutlah yang kemudian akan dicocokan dengan hash dari suatu data terenkripsi pada teknologi jaringan peer-to-peer. Apabila bentuk hash dari suatu solusi identik dengan hash yang ada di jaringan cryptocurrency, maka solusi itu dinyatakan sebagai bagian kecil dari cryptocurrency.

Di dalam ilmu kriptografi, hash merupakan satu kesatuan huruf dan angka acak yang bentuknya selalu unik, dengan panjang karakter ditentukan oleh algoritma pembentuk hash tersebut. Jika dikaitkan dengan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap solusi yang memiliki hash identik di jaringannya adalah pecahan mata uang dijital yang unik dan tidak ada satupun pihak lain yang memilikinya. Pecahan itu kemudian akan menjadi milik pihak yang menemukan solusi tersebut.


Cryptocurrency sendiri memiliki sifat desentralisasi. Sifat ini memungkinkan siapapun untuk memproduksi uangnya sendiri. Jelas sangat bertolak belakang dengan sifat sentralisasi seperti uang  kertas dan logam yang selama ini kita cetak, pegang dan belanjakan, dimana hanya satu lembaga keuangan tertentu saja yang diperbolehkan melakukan kegiatan memproduksi uang contohnya Bank Indonesia

Dengan sifatnya yang sama sekali tidak terpusat, nilai dari cryptocurrency dipastikan tidak dapat dipengaruhi oleh inflasi. Setelah 7 tahun cryptocurrency dikenal masyarakat luas, belum ada bank sentral dunia yang mampu mengubah nilai jual beli dari cryptocurrency. Nilainya murni dipengaruhi oleh peminat, permintaan dan penawaran selayaknya nilai jual beli logam mulia.

Dari sisi keamanannya, setiap transaksi yang terjadi melalui jaringan cryptocurrency sangat transparan, tapi juga sangat sulit untuk dilacak. Selama pengguna menjaga betul privasi dari transaksi yang dilakukannya maka identitasnya hanya akan diketahui oleh dirinya sendiri. Banyak orang dan lembaga berpendapat bahwa cryptocurrency dapat menjadi media untuk melakukan pencucian uang. Hal ini disebabkan karena identitas penggunanya, seperti nama dan lainnya, hanya dapat muncul ke publik setelah ia melakukan transaksi pembelian barang atau jasa di suatu merchant berbadan hukum. Mengapa? Karena pada saat proses sebelum pembelian itulah biasanya pengguna harus memasukkan identitas terkait dirinya.


Maka dari itu, hingga saat ini, tidak ada satupun negara yang mengadopsi cryptocurrency sebagai mata uang utama karena uang digital ini hampir tidak dapat sedikitpun ‘disentuh’ oleh lembaga-lembaga kenegaraan – bahkan oleh lembaga hukum sekalipun. Hal ini terbukti melalui kasus penjualan narkoba dan senjata api ilegal terbesar di Amerika yang terjadi pada 2011-2015 oleh Ross Ulbricht. Dengan memanfaatkan jaringan deep web dan anonymity dari cryptocurrency bernama Bitcoin, Ulbricht diduga telah melakukan transaksi keuangan kurang lebih US$ 200 juta di dalam situs Silk Road yang seluruhnya berbentuk transaksi Bitcoin.

Cryptocurrency pertama yang dibuat adalah Bitcoin, makanya Bitcoin yang paling terkenal dimana-mana. Bitcoin dibuat oleh seorang "Anonymous" bernama Satoshi Nakamoto pada 2009. Nah, setelah Bitcoin muncul, akhirnya muncul juga coin - coin lain yang disebut Altcoin(Alternative Coin), seperti Litecoin dan Dogecoin.

Dalam sejarah cryptocurrency, Bitcoin merupakan mata uang digital pertama yang bersifat desentralisasi. Namun, mata uang digital ternyata sudah ada sejak 1980-an. Sejarah cryptocurrency sebelum era Bitcoin inilah yang kemudian menjadi salah satu ide pendukung dari lahirnya Bitcoin. Setidaknya ada lima produk cryptocurrency yang terkenal di saat Bitcoin belum diciptakan.

Digi Cash 1990

Pada 1982, seorang cryptographer asal Amerika Serikat, David Chaum, menggagas sebuah ide yang dinamakannya sebagai blind signatures. Di dalam makalahnya yang berjudul “Blind Signature For Untraceable Payments“, Ia menjelaskan bahwa blind signature merupakan suatu bentuk tanda tangan digital dimana isi pesan yang tercantum akan disamarkan terlebih dahulu sebelum ditanda tangani. Dalam makalah tersebut juga Ia menyampaikan pandangannya terhadap hubungan antara uang dan privasi. Chaum percaya bahwa untuk menjalani perdagangan yang aman, masyarakat membutuhkan uang berbasis token yang dapat menyamai sifat dari uang logam dan kertas. Delapan tahun setelah makalah tersebut dipublikasikan, tepatnya pada 1990, Chaum mendirikan DigiCash di Amsterdam.

Gagasan mata uang digital yang dibawa ke dalam DigiCash menarik banyak perhatian pers. Pada saat itu, ide DigiCash sangatlah luar biasa. DigiCash dinilai mampu menjadi solusi untuk pengamanan transaksi keuangan dari satu tangan ke tangan lainnya. Namun, Chaum dan kawan-kawan sesama pendiri DigiCash berprinsip bahwa produk ini hanya akan dijual ke sektor bank. Prinsip ini pula yang kemudian membuat DigiCash runtuh karena tidak dapat menemukan bank yang ingin menggunakan produknya.

Tepat pada saat DigiCash bangkrut, Microsoft muncul dengan tawaran kerjasama sejumlah US$ 180 juta. Microsoft meminta Chaum untuk mengimplementasi DigiCash di semua Windows PC. Sayangnya tawaran tersebut dinilai Chaum tidak cukup untuk melanjutkan DigiCash dan akhirnya DigiCash bangkrut karena kehabisan uang di tahun 1998.

E – gold 1996

E-Gold didirikan pada 1996 oleh Dr. Douglas Jackson dan Barry K. Downey. Pada saat itu, E-Gold muncul dengan ide segar tentang transaksi dijital berbasis emas dan perak. Metode yang ditawarkannya adalah pengguna membuat akun E-Gold, lalu mengirimkan emas atau peraknya ke E-Gold, dan kemudian E-Gold akan melakukan kredit di akun pengguna. Kredit tersebutlah yang kemudian dapat dikirim ke merchant ataupun pengguna E-Gold lainnya.
Pada tahun 2001, E-Gold mulai menghadapi beberapa permasalahan. Salah satu permasalahan terbesarnya adalah ketika USA Patriot Act memperketat regulasi terhadap badan usaha yang masuk ke dalam kategori bisnis money transmitter. Untuk dapat terus melakukan bisnis tersebut, E-Gold dan badan usaha lainnya harus memiliki lisensi khusus sebagai bisnis money transmitter. Tapi, untuk mendapatkan lisensi tersebut, ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. E-Gold menyatakan bahwa syarat-syarat tersebut terlalu rumit. Satu dari sekian banyaknya usaha money transmitter yang berhasil bertahan hingga saat ini adalah Paypal. Pada 2005, E-Gold akhirnya mulai dilupakan sebagai mata uang alternatif dan dinyatakan berakhir pada tahun 2015 kemarin.

Beenz dan Flooz – 1998

Beenz dan Flooz merupakan dua nama mata uang dijital yang sangat terkenal di tahun 1998-1999. Beenz didirikan oleh Charles Cohen, sedangkan Flooz didirikan oleh Robert Levitan. Keduanya memiliki sistem bisnis yang sama, dimana website ini memungkinkan penggunanya untuk mendapatkan komisi berbentuk mata uang dijital tersebut. Caranya, pengguna hanya perlu melakukan aktivitas-aktivitas normal di internet, seperti mengunjungi website lain, belanja online, ataupun log in ke dalam sistem melalui penyedia jasa internet (ISP) tertentu. Setelah pengguna mengumpulkan sejumlah mata uang Beenz atau Flooz, mereka dapat menggunakannya untuk membeli barang dari online merchant yang sudah bekerja sama dengan Beenz atau Flooz.

Uniknya, kedua perusahaan ini tidak hanya berdiri di waktu yang hampir bersamaan, tapi juga mati di waktu yang hampir bersamaan. Pada 2001, kedua perusahaan ini bangkrut. Pemicu kebangkrutan Beenz dan Flooz adalah fenomena dot-com bubble burst di Amerika yang terjadi pada awal tahun 2000. Seluruh saham mereka anjlok dan pada akhirnya kehabisan uang. Dilansir oleh CNET, Beenz sendiri dinyatakan sebagai perusahaan yang terkena dampak paling parah dari fenomena dot-com bubble burst.

InternetCash.com – 1999

InternetCash merupakan salah satu perusahaan pelopor ide kartu prepaid elektronik di seluruh dunia. InternetCash didirikan pada April 1999 oleh Charles Doherty, Yiannis Tsiounis, Jason Richelson dan Ben Reddy. Mr. Doherty. Keempat orang inilah yang kemudian melahirkan sebuah jaringan pembayaran baru di Internet.
Pada awal berdirinya, InternetCash dihadapkan pada dua pilihan yaitu mengikuti metode pembayaran pada jaringan perbankan seperti Visa dan Mastercard, atau membuat jaringannya sendiri. Satu hal yang sangat ingin direalisasikan oleh para pendiri InternetCash adalah jaringan pembayaran tersebut harus lebih aman dari Visa dan Mastercard. Akhirnya, diputuskanlah bahwa InternetCash akan membuat metode pembayaran internet dengan jaringannya sendiri.

Pemasaran InternetCash dilakukan dengan cara bekerja sama dengan online merchant. Pengisian saldo di kartu prepaid pengguna dilakukan dengan cara men-topup sejumlah uang kepada InternetCash. Sama halnya dengan Visa dan Mastercard, setiap pemilik kartu InternetCash juga memiliki nomer kartu dan PIN (Personal Identification Number). Pada saat pengguna akan membayar belanjaan mereka, online merchant akan melempar para pengguna ke satu halaman web yang dioperasikan secara khusus oleh InternetCash. Mereka menyebut halaman tersebut dengan “InternetCash Payment Window“. Di sana, pengguna akan diminta memasukkan nomer kartu serta PIN-nya. Setelah nomer kartu, PIN, dan jumlah saldo dinyatakan valid, identitas kartu dan detil transaksinya akan ditandai dan dienkripsi secara dijital oleh sistem. Jika semua data dinyatakan valid, informasi transaksi tersebut kemudian dikirim kembali ke merchant untuk disimpan sebagai referensi, sedangkan hasil dari olahan data yang telah dienkripsi akan dikirim ke server pembayaran InternetCash.

Pada saat itu, metode pembayaran yang diusung oleh InternetCash dalam suatu jaringan tersendiri dinyatakan sebagai metode yang melebihi standar aman transaksi online. Visa dan Mastercard pada saat itu hanya menangani pembayaran melalui jaringan perbankan sehingga kurang transparan. InternetCash muncul dengan solusi baru dimana pembayaran yang dilakukan dalam jaringan InternetCash tidak hanya aman namun mampu menjaga keaslian dari transaksi yang dilakukan, baik dari sisi jumlah uang yang dipertukarkan sampai dengan bagaimana transaksi bisa terjadi.

Dengan terobosan baru di awal tahun milenium, InternetCash mampu mencapai pendanaan hingga US$ 10 juta dan mempekerjakan lebih dari 70 karyawan. Sebuah startup yang sukses di masa itu. Tapi sayang, dikarenakan InternetCash memutuskan untuk membuat jaringannya sendiri, perusahaan ini akhirnya dinyatakan sebagai bagian dari bisnis dot-com company. Seperti yang sudah-sudah, nasibnya pun bisa ditebak. Sama seperti dua pendahulunya yaitu Beenz dan Flooz, InternetCash pun harus bangkrut di tahun 2001 karena dampak dari kejadian Dot-com Bubble Burst.

Sumber: https://kriptokoin.wordpress.com
               https ://muncuss.blogponsel.net





Komentar

Postingan Populer