Konsumsi Energi Dan Ekologi Pertambangan



Konsumsi Energi Dan Ekologi Pertambangan Bitcoin

Munculnya pusat pertambangan besar secara profesional membuat dominasi pertambangan Bitcoin. Hal ini seakan sama persis dengan pertambangan emas. Terutama, bagaimana peran perusahaan besar di pertambangan emas yang telah banyak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sementara di Bitcoin, mungkin tidak akan menjadi sebesar itu sebagai dampaknya. Namun, pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi yang besar. Secara tidak langsung, akan juga berdampak bagi mata uang, dan juga lingkungan.

Ada sebuah hukum fisika yang dikenal dengan prinsip Landauer, oleh Ralph Landauer di tahun 1960. Pada hukum fisika itu menyatakan bahwa setiap komputasi non-reversible (searah-tidak dapat dibalik) akan membutuhkan sejumlah minimum energi. Logikanya, setiap komputasi secara irreversible dianggap dapat menghilangnya sebuah informasi. Terutama, di dalam prinsip hukum fisika itu, menyatakan bahwa setiap bit akan mengkonsumsi minimal (kT In 2) joules. Dimana K adalah konstan Boltzmann, atau kurang lebih 1.38×10-23 J/K. Disitu, T adalah temperatur sirkuit dalam ukuran Kelvin, dan In 2 adalah algoritma biasa dari 2, atau kurang lebih bernilai 0.69. Jumlah kecil ini adalah jumlah energi per bit. Dari hukum fisika ini, menjelaskan bahwa sebuah komputasi, akan membutuhkan energi yang bisa dihitung tiap bit.

Sedangkan SHA256, ada yang menganggap bukanlah sebuah komputasi reversible. Dijelaskan dalam hukum fisika diatas, bahwa setiap komputasi yang non-reversible akan membutuhkan energi, dan SHA-256 digunakan sebagai dasar pertambangan Bitcoin. Sehingga artinya, komputasi pertambangan Bitcoin juga membutuhkan energi.

Lalu bagaimana bisa Bitcoin akan membutuhkan energi?

Pertambangan Bitcoin, tidak bisa memungkiri akan memakan konsumsi energi. Meskipun, jumlah energi yang digunakan masih jauh dari jumlah keseluruhan energi listrik yang digunakan di dunia saat ini. Namun kenyataannya adalah pertambangan Bitcoin memang membutuhkan energi listrik. Pada perangkat pertambangan tentu perlu diproduksi. Baik saat masih berupa bahan baku fisiknya, lalu mengubahnya menjadi perangkat pertambangan Asic. Dan dari proses tersebut juga akan membutuhkan energi. Sedangkan untuk pengiriman produk jadi perangkat Asic kepada konsumen, juga memakan energi dalam pengirimannya. Lalu, berlanjut lagi setelah perangkat tersebut digunakan untuk pertambangan Bitcoin, komputasi perangkatnya juga akan memakan energi.

Dari tingkat konsumsi energy yang telah berlangsung di pertambangan Bitcoin saat ini, banyak harapan yang akan bisa menurunkan tingkat konsumsi energi. Terutama pada proses pertambangan Bitcoin. Mari kita lihat lebih jauh tingkat konsumsi energi dalam Bitcoin.

Kebutuhan Daya Listrik

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ketika pertambangan Bitcoin dilakukan akan mengkonsumsi listrik, yakni listrik. Begitupun halnya ketika menggunakan perangkat Asic. Pada perkembangan perangkat pertambangan, bisa dibilang ada penurunan dan efektifitas penggunaan energi listrik.

Namun ketika Asic masuk, meski pada akhirnya ada perkembangan perangkat Asic yang memungkinkan untuk mengkonsumsi listrik lebih rendah, namun bisa dikatakan, karena Asic jugalah hash rate di jaringan Bitcoin meningkat pesat. Dan hal itu juga berimplikasi pada peningkatan konsumsi listrik untuk pertambangan Bitcoin.

Ada sebuah ulasan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Sebastian Deetman tentang daya konsumsi listrik pertambangan Bitcoin. Dan juga relasinya terhadap dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan. Ulasan tersebut bisa dibaca selengkapnya di sini:

Daya Konsumsi Listrik Jaringan Bitcoin

Bagi Seorang penambang, tentu haruslah bisa mengkalkulasikan berapa daya listrik yang ada pada perangkat pertambangannya. Sekaligus, juga menghitung biaya listrik yang akan dibutuhkan. Pada bulan Maret lalu, tarif listrik di Indonesia turun, meski sedikit. Kurang lebih tarif listrik pada bulan Maret 2916 lalu sebagai berikut:

Tarif Listrik Bulan Maret 2016: Rp 1355/kWh

Golongan tarif yang masuk kelompok ini:
  1. Rumah tangga kecil R1/1300 VA
  2. Rumah tangga kecil R1/2200 VA
  3. Rumah tangga sedang R2/3500-5500 VA
  4. Rumah tangga besar R3/6600 VA ke atas
  5. Bisnis menengah B2/6600 VA-200 kVA
  6. Pemerintah sedang P1/6600 VA-200 kVA
  7. Penerangan Jalan P3
Misalkan kita menggunakan Antminer S7 dengan harga $ 597 (Rp. 7.960.645,88 – Harga di amazon saat ini), 4,73 TH/s dengan daya konsumsi listrik 1210 watt. Untuk menghitungnya, kita bisa menggunakan rumus berikut:


Jadi pada pemakaian Antminer jika bekerja penuh dalam 1 bulan non stop, maka akan membutuhkan daya berikut:

1210/1000 x 24 x 30 = 871,2 KWH.

Jika tarif Listriknya adalah Rp 1355/kWh, maka total biaya listrik dalam 1 bulan adalah:

1355×871,2 = Rp. 1.180.476,-

Tentu saja, jumlah tersebut hanya dihitung dari besaran pemakaian listrik pada perangkat Asic di Antminer S7 saja. Masih belum termasuk perhitungan biaya listrik PC atau laptop yang digunakan, atau juga pendingin tambahan yang akan digunakan jika diperlukan. Begitu pula dengan biaya koneksi yang dipakai untuk menghubungkan perangkat pada jaringan Bitcoin.
Jika kita mencoba mengkalkulasi lagi besaran jumlah Bitcoin yang bisa dihasilkan, kita bisa juga melakukan perhitungan tersebut, begini cara menghitungnya:


HashRate Asic Antminer S7            : 4,73 TH/s

Difficulty Saat ini                             : 194254820283.44403

Harga Bitcoin ($)                             : 455.4 USD

Listrik per KWH (konvert ke $)      : 0.09 USD

Kesulitan bertambah                        : 5 % (2 minggu)

Biaya pool (antpool)                        : 2,5%

Data tersebut kita masukkan ke kalkulator mining untuk menghitung kisaran berapa yang bisa di dapat dalam melakukan pertambangan. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Jam        : $ 0,12
Hari       : $ 2,82
Minggu : $ 19,77
Bulan    : $ 84,71
Tahun   : $ 1.030,64

Anda bisa mencoba penghitungan dengan memasukkan data informasi diatas pada kalkulator mining dibawah ini:

Kalkulator Mining

Dari contoh percobaan penghitungan biaya listrik dan kisaran hasil pertambangan di atas, kita bisa menilai bahwa besaran daya listrik juga mempengaruhi juga pola pertambangan, dan juga pada hasil pertambangan yang bisa didapatkan. Dalam satu bulan pemakaian perangkat secara nonstop, antara hasil yang didapat dengan biaya listriknya juga tidak terlalu besar perbedaannya. Tentu saja, hal itu sesuai dengan tarif listrik yang ada di Indonesia. Keuntungan secara bersih akan bisa diperoleh, jika telah melakukan pertambangan kurang lebih selama 7 bulan, itupun baru bisa menutupi untuk biaya pembelian perangkatnya.

Sementara, dalam rentang waktu 7 bulan tersebut, penambang juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Misalkan tentang adanya kerusakan perangkat, harga Bitcoin yang turun, Biaya listrik yang mungkin naik di 2 bulan ke depan, atau hal lainnya lagi.

Pendingin

Pendingin ini dianggap sebagai sebuah komponen penting dalam pertambangan Bitcoin. Dan dalam prakteknya juga akan memakan energi listrik. Jika tidak menggunakannya, maka bisa dipastikan akan mengakibatkan kerusakan pada perangkat pertambangan yang digunakan.

Namun jika pertambangan Bitcoin dilakukan dalam ukuran yang kecil, mungkin biaya untuk pendingin ini juga kecil dan biasanya dianggap remeh. Berbeda halnya jika pertambangan itu dilakukan dalam ukuran besar seperti pusat pertambangan Bitcoin besar secara profesional. Pendingin ini cukup berpengaruh dan akan memakan biaya yang besar juga atas daya konsumsi listriknya.

Agan sudah bergabung di Furabit.....?
Jika belum.....
Ayo bergabung disini,

Postingan Populer